PT Sampurna Menunggak, Petani Sawit Sebatik Menjerit!

oleh -2.716 views
Sawit / INT

PERSPECTIVEE.ID – Sejumlah koperasi pengumpul buah kelapa sawit milik masyarakat Pulau Sebatik dan Nunukan mengeluhkan management PT. Sampurna yang hingga kini tak kunjung melakukan pembayaran terhadap buah yang masuk di Pabrik CPO itu.

Tercatat pembayaran sejak Agustus hingga November yang seharusnya diterima para pengumpul dan petani, tak kunjung mendapat kejelasan. Seperti yang diungkapkan Subandi salah satu pengumpul buah sawit di Pulau Sebatik ini mengungkapkan, jika pihaknya hingga kini tak mendapatkan penjelasan yang logis dari pihak perusahaan.

Sementara tagihannya sendiri dari September hingga November terhitung total sekitar Rp 1 Miliar lebih.

Selain Subandi, Aba seorang pengumpul lainnya juga mengungkapkan kasus penunggakan tersebut. Kepada media ini, Aba mengaku ada ratusan jiwa yang bernaung di koperasinya harus gigit jari hingga saat ini, lantaran pembayaran periode September hingga November tak terealisasi oleh kilang sawit pertama di Pulau Sebatik itu.

“Sejak September kita dijanjikan pembayaran, namun sampai sekarang tidak ada jawaban yang memuaskan diterima semua pengumpul, baik itu di Sebatik maupun di Nunukan. Sementara, kita tahu sendiri banyak petani-petani yang mengantungkan hidupnya dari kegiatan ini,” ungkap Subandi saat dihubungi perspectivee.id.

Lebih jauh dijelaskan Aba, pihak PT. Sempurna kerap berjanji jika CPO terjual maka perusahaan akan melakukan pembayaran terhadap buah masyarakat yang masuk.

Namun, setelah adanya penjualan CPO pada September lalu. Para pengumpul hanya dilakukan pembayaran sebesar Rp 1 miliar dari total yang harus dibayarkan sekitar Rp 13 miliar.

“Dari informasi yang kami dapat dari pak Putoy. Katanya September 2018 lalu, PT. Sampurna telah melakukan penjualan CPO dengan total Rp 18 miliar. Namun, kok yang diserahkan kepada pengumpul Se Pulau Sebatik dan Nunukan hanya Rp 1 miliar. Sementara total tagihan itu ada sekitar Rp 13 miiliar,” ungkap pemilik CV. Agra Palma tersebut.

Dirinya menganggap, pihak perusahaan tidak menunjukkan itikad baik dalam hal kerjasama kepada para petani dan pengumpul buah di Pulau Sebatik dan Nunukan. Pihaknya juga kecewa atas ketidakjujuran pihak perusahaan.

“Kalau soal turunnya harga buah dunia, kita bisa maklumi. Tapi sebagai investor, tentu perusahaan itu punya modal cukup dalam menjalankan perusahaan dimaksud. Tapi kok masyarakat yang dikorbankan,” kesal Aba.

Belum lagi, para pengumpul mendapat informasi terkait pembukaan pabrik baru milik PT. Sampurna di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Artinya, dengan adanya pembukaan pabrik baru tersebut, secara tidak langsung perusahaan ini menunjukkan adanya finansial yang cukup.

“Kok bisa buka pabrik baru, jangan-jangan uang masyarakat di Sebatik dibawa lari kesana (Maros, Red.),” ujarnya.

Sementara itu, baik Aba maupun Subandi meminta dan mendesak PT. Sempurna untuk segera melakukan pembayaran terhadap hak-hak mereka dan juga petani. Sebab, ada ribuan warga yang menggantungkan hidup mereka dari komoditi tersebut.

Penulis : Ahmad Albar
Editor   : Diansyah