Kisah Pilu Wanita Pemandu Karaoke di Nunukan

oleh -4.160 views
Ilustrasi

PERSPECTIVEE.IDPelecehan terhadap perempuan sudah menjadi rahasia umum di Nunukan, hal itu jelas terlihat dibeberapa tempat, menurut pengakuan sejumlah perempuan yang sempat ditemui mengungkapkan bahwa dirinya telah lelah menjalani profesi sebagai penghibur alias pemandu bagi mereka yang akan menghabiskan waktu berkaraoke.

Berdasarkan pengamatan, perspective.id mengimpun beberapa kejadian di salah satu tempat hiburan malam di Nunukan. Terlihat sejumlah oknum yang diduga adalah oknum aparatur negara, kepada perempuan bernama Sakura (bukan nama sebenarnya) sedang ketakutan pasca orang tersebut melempar telpon selulernya dengan angkuhnya.

“Hargamu berapa sih, seharga hp oppo kah,” sembari melempar telpon selulernya kearah Sakura.

Ditempat berbeda, salah satu perempuan yang berprofesi sebagai wanita penghibur sempat menuturkan beberapa alasan dirinya terus bergelut dengan dunia malam. Ingin berbakti serta menghidupi keluarga menjadi alasan tersendiri bagi dirinya, diakui olehnya bahwa hal yang dilakukan juga bertentangan dengan keinginannya, namun sulitnya mencari pekerjaan saat ini tentu dirinya harus terus bergelut.

“Sebenarnya sudah capek, capek banget malah. Tapi karena say punya anak dan orang tua terpaksa saya lakukan,” ujar perempuan asal Sebatik ini sembari meneteskan air mata.

Sementara itu dirinya tak bisa memberi keterangan lebih lanjut saat coba digali informasi terkait pekerjaan yang digeluti dengan alasan sudah dipanggil oleh bosnya atau akrab disapa Mami.

“Saya harus kembali karena sudah dipanggil mami,” ujarnya penuh kecemasan sembari melihat ponsel yang berdering.

Sebelumnya, pewarta sempat bertemu dengan mami dimaksud atas nama Hinata (bukan nama sebenarnya). Saat itu wanita berperawakan tinggi, berambut pirang ini sempat menawarkan beberapa perempuan senilai seratus ribu rupiah untuk menghibur dan mendampingi kami bernyanyi.

“Butuh berapa orang, seratus aja,” ungkapnya

Hal ini tentuya mencerminkan emansipasi wanita yang telah di perjuangkan RA. Kartini dimasanya seolah tergilas zaman saat ini, namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah pemerintah Nunukan tak mampu mengontrol hal ini, atau apakah aparat terkait justru membiarkan hal ini?

Sejumlah pihak justru melihat fenomena sebagai hal yang biasa, bahkan nyaris disetiap wilayah akan tersedia pelayanan-pelayanan dimaksud. Seperti yang diungkapkan Hendra Kadir, tokoh muda Nunukan ini mengungkapkan, bahwasanya persoalan wanita penghibur memang bukan menjadi barang baru di Nunukan. Hanya saja, saat ini sejumlah wanita-wanita justru berasal dari Nunukan sendiri.

Tentu, perlu adanya pendampingan yang serius dan mencarikan solusi pekerjaan yang memadai sehingga kedepan tidak ada lagi putri-putri daerah yang terjebak dalam pekerjaan haram tersebut.

“Saya pikir mereka juga enggan kerja begitu. Tapi lagi-lagi karena persoalan perut mau tidak mau mereka menjalani kehidupan seperti itu. Kedepan semoga pendampingan dan pelatihan keterampilan bisa digenjot lagi,” ujar Hendra.

Dia menambahkan, lemahnya pengawasan dan penindakan oleh aparat-aparat hukum juga sejatinya menjadi tolak ukur, bagaimana hiburan malam masih tumbuh subur di Nunukan. Satpol PP Nunukan sebagai instansi yang juga paling bertanggungjawab masih terkesan cuek terhadap persoalan-persoalan dimaksud.

Selain itu, regulasi aturan terkait hiburan malam di Nunukan juga masih terbilang lemah, sehingga belum ada satupun Perda maupun Perbup terkait hiburan malam di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini.

Penulis: Reno Aldian
Editor  : Diansyah